Tujuan pendidikan matematika pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (ktsp) pada intinya adalah agar siswa mampu menggunakan atau menerapkan matematika yang


download 0.52 Mb.
jenengTujuan pendidikan matematika pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (ktsp) pada intinya adalah agar siswa mampu menggunakan atau menerapkan matematika yang
Kaca1/9
KoleksiDokumen
gam.kabeh-ngerti.com > Astronomi > Dokumen
  1   2   3   4   5   6   7   8   9




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tujuan pendidikan matematika pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada intinya adalah agar siswa mampu menggunakan atau menerapkan matematika yang dipelajari di kelas dalam kehidupan sehari-hari dan dalam belajar pengetahuan lain. Oleh sebab itu, dalam pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi dunia nyata (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, siswa secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika (Depdiknas, 2006:93).

Pembelajaran yang lebih menekankan pentingnya menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka selanjutnya disebut pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Terciptanya lingkungan alamiah dalam proses belajar, diharapkan suasana kelas menjadi lebih ’hidup’ dan lebih ’bermakna’ karena siswa mengalami sendiri apa yang dipelajarinya.

Sehubungan dengan tujuan pendidikan matematika tersebut, maka usaha yang dapat dilakukan guru dalam pembelajaran matematika adalah memilih pendekatan, model dan strategi pembelajaran yang dapat memberi perhatian yang cukup terhadap pemahaman siswa pada konsep matematika. Pemahaman konsep dapat dibangun oleh siswa melalui berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Guru harus menyajikan situasi dunia nyata di dalam pembelajaran dan mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan kehidupan mereka.

Mengacu pada pemahaman yang diharapkan, maka peneliti mengadakan dialog dan diskusi intensif dengan guru matematika kelas V SD Inpres I Besusu sebagai upaya untuk menggali secara mendalam tentang strategi pembelajaran yang digunakan pada pembelajaran operasi hitung bilangan bulat. Hasil diskusi tersebut diperoleh beberapa gambaran sebagai berikut:

  1. Guru matematika SD Inpres I Besusu dalam menjelaskan konsep operasi hitung bilangan bulat kepada siswa belum mengaitkan dengan situasi dan kehidupan sehari-hari. Setelah memberikan contoh-contoh soal, guru langsung memberi latihan soal-soal.

  2. Perhatian dan motivasi siswa ketika belajar matematika agak kurang. Bahkan beberapa siswa lebih senang bermain dibanding belajar.

  3. Ada kalanya dalam melaksanakan pembelajaran matematika guru memberikan contoh penerapan suatu konsep dalam kehidupan nyata. Namun, dalam mengajarkan operasi hitung bilangan bulat guru tidak menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas. Karena keterbatasan waktu dan tidak adanya alat-alat peraga yang dapat digunakan.

  4. Guru matematika kelas V SD Inpres I Besusu belum mengetahui pembelajaran secara CTL.

  5. Teknik penilaian yang digunakan oleh guru yaitu penilaian produk yang dilaksanakan setiap akhir pokok bahasan dan akhir semester.

  6. Tingkat pencapaian hasil belajar siswa terhadap operasi hitung bilangan bulat menurut guru matematika kurang dari 40%. Hal ini didukung dari hasil tes awal yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 24 Juli 2007, dari 24 orang siswa yang dites, diperoleh informasi bahwa:

    • 5 orang siswa tidak dapat menuliskan bilangan -25 dengan baik.

    • 13 orang siswa tidak dapat menyelesaikan soal penjumlahan antara bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif dengan menggunakan garis bilangan.

Contoh kesalahan jawaban siswa:


6
-2 + 4 = 6


4




-2




-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6

 Tidak ada seorangpun siswa yang dapat menyelesaikan soal pengurangan antara bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif dengan menggunakan garis bilangan.

Contoh kesalahan jawaban siswa:

(-3) – 4 = 1


-3

-4





5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5


  1. Guru belum pernah menerapkan pembelajaran secara berkelompok dengan alasan keterbatasan waktu, sedangkan siswa memiliki minat yang besar untuk belajar secara berkelompok.

Dari uraian diatas, terlihat bahwa rendahnya pemahaman siswa pada operasi hitung bilangan bulat diduga sebagai akibat dari kurang optimalnya strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan operasi hitung bilangan bulat.

Memperhatikan kondisi tersebut diperlukan suatu tindakan perbaikan pembelajaran yang dapat menghadirkan situasi dunia nyata (contextual) yang ada dalam kehidupan sehari-hari siswa dalam pembelajaran di kelas. Untuk itu peneliti dan guru matematika kelas V SD Inpres I Besusu sepakat untuk menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual dalam meningkatkan pemahaman siswa pada operasi hitung bilangan bulat.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian sebagai berikut: ”strategi pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual yang bagaimana dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas V SD Inpres I Besusu pada operasi hitung bilangan bulat?”

C. Tujuan Penelitian

Dengan memperhatikan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan strategi pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual yang dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas V SD Inpres I Besusu pada operasi hitung bilangan bulat.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

    1. Bagi siswa, diharapkan lebih aktif dalam pembelajaran dan dapat membantu siswa dalam memahami operasi hitung bilangan bulat.

    2. Memberi pengalaman dan alternatif lain bagi guru matematika yang terlibat dalam penelitian ini baik dari segi teoritis maupun dari pelaksanaan pembelajaran kontekstual.

    3. Bagi sekolah, dapat memberikan masukan dalam rangka perbaikan dan peningkatan mutu pengajaran matematika di kelas.

    4. Bagi pihak lain, dapat menjadi referensi dalam melakukan penelitian yang lebih lanjut.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Pemahaman

Hiebert dan Carpenter (Usman H.B., 2001:18) berpendapat bahwa pemahaman merupakan aspek yang fundamental dalam belajar dan setiap pembelajaran matematika seharusnya fokus utamanya adalah bagaimana menanamkan konsep matematika berdasarkan pemahaman.

Pemahaman merupakan suatu proses pengetahuan atau informasi yang baru diterima oleh seseorang dan dapat dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki atau ada pada diri orang tersebut. Lebih lanjut Perkin dan Blythe (Usman H.B., 2004:3), menjelaskan pemahaman sebagai ”....Kemampuan melakukan berbagai hal yang ada dalam pikiran terhadap sebuah topik tertentu- seperti penjelasan, menemukan bukti dan contoh-contoh, generalisasi, penerapan, analogi. Dan penyajian topik dengan cara baru”. Pertanyaan-pertanyaan guru sangat menentukan sebagai awal dari proses pembelajaran.

Agar dapat menunjukkan pemahaman yang baik dalam pembelajaran konsep bilangan bulat dan operasinya, guru harus dapat mengaitkan antara informasi baru yang akan diterima oleh siswa dengan pengetahuan yang telah ada didalam diri siswa melalui berbagai pertanyaan. Pemahaman yang baik juga dapat dilihat melalui kemampuan siswa menghubungkan antara pengetahuan konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari.

B. Pembelajaran Kontekstual

Suatu pembelajaran hendaknya dapat mendorong siswa untuk membuat hubungan dari apa yang dipelajari dengan penerapannya dalam kehidupan dunia nyata yang ada di lingkungannya. Pendekatan kontekstual merupakan suatu strategi pembelajaran yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran lebih produktif dan bermakna. Nurhadi & Senduk (2003:13) menyatakan bahwa:

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari; sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit- demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.
Pembelajaran kontekstual mengasumsikan bahwa siswa belajar tidak dalam proses seketika. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh sedikit demi sedikit, berangkat dari pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Sehingga melalui pengajaran ini memungkinkan siswa untuk memperluas dan menerapkan pengetahuan yang dimiliki dalam berbagai macam tatanan dalam-sekolah dan luar-sekolah agar dapat memecahkan masalah-masalah dunia nyata (Nurhadi & Senduk, 2003:13).

Nur (Depdiknas, 2004:11) menyatakan bahwa pembelajaran yang kontekstual menekankan pada konteks sebagai awal pembelajaran, sebagai ganti dari pengenalan konsep secara abstrak. Dalam pembelajaran matematika yang kontekstual proses pengembangan konsep-konsep dan gagasan-gagasan matematika bermula dari dunia nyata.

Pembelajaran kontekstual (CTL) memiliki dua peranan dalam pendidikan yaitu sebagai filosofi pendidikan dan sebagai rangkaian kesatuan dari strategi pendidikan. Sebagai filosofi pendidikan, CTL mengasumsikan bahwa peranan pendidik adalah membantu peserta didik menemukan makna dalam pendidikan dengan cara membuat hubungan antara apa yang mereka pelajari di sekolah dan cara-cara menerapkan pengetahuan tersebut di dunia nyata. Hal ini dimaksudkan untuk membantu peserta didik memahami mengapa yang mereka pelajari itu penting. Sedang sebagai strategi, strategi pengajaran dengan CTL memadukan teknik-teknik yang membantu peserta didik menjadi lebih aktif sebagai pebelajar dan reflektif terhadap pengalamannya (Depdiknas, 2005:17).

Menurut Nurhadi & Senduk (2003:55), beberapa pengajaran yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual antara lain: pengajaran berbasis masalah, pengajaran kooperatif, pengajaran berbasis inkuiri, pengajaran berbasis proyek/tugas, pengajaran berbasis kerja, dan pengajaran berbasis jasa layanan. Dalam penelitian ini, pengajaran yang akan digunakan adalah pengajaran kooperatif. Pengajaran ini dipilih berdasarkan hasil wawancara dengan guru yang menyatakan bahwa siswa memiliki minat yang besar jika belajar dalam kelompok.

C. Komponen Utama Pembelajaran Kontekstual

Menurut Nurhadi & Senduk (2003:13), ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas. Ketujuh komponen utama itu adalah konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection) dan penilaian sebenarnya (authentic asessment). Berikut ini uraian masing-masing komponen secara singkat.

  1. Konstruktivisme (Constructivism)

Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses ’mengkonstruksi’ bukan ’menerima’ pengetahuan. Dalam proses pembelajaran siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan bukan guru.

  1. Bertanya (Questioning)

Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis kontekstual. Bertanya adalah suatu strategi yang digunakan secara aktif oleh siswa untuk menganalisis dan mengeksplorasi gagasan-gagasan. Pertanyaan-pertanyaan spontan yang diajukan siswa dapat digunakan untuk merangsang siswa berpikir, berdiskusi, dan berspekulasi. Guru dapat menggunakan teknik bertanya dengan cara memodelkan keingintahuan siswa dan mendorong siswa agar mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

  1. Menemukan (Inquiry)

Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan. Kegiatan inkuiri sebenarnya sebuah siklus. Siklus inkuiri adalah : observasi, bertanya, mengajukan dugaan, pengumpulan data dan penyimpulan.

  1. Masyarakat belajar (Learning Community)

Dalam kelas dengan pendekatan kontekstual, kegiatan pembelajaran dilakukan dalam kelompok-kelompok belajar. Masyarakat belajar bisa tercipta apabila ada proses komunikasi dua arah. Dalam masyarakat belajar, anggota kelompok yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran dapat saling belajar.

  1. Pemodelan (Modeling)

Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana para guru menginginkan para siswa untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar.

  1. Refleksi (Reflection)

Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang baru diterima. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima.

  1. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)

Authentic assessment adalah prosedur penilaian pada pembelajaran kontekstual. Prinsip utama asesmen dalam pembelajaran kontekstual tidak hanya menilai apa yang diketahui siswa, tetapi juga menilai apa yang dapat dilakukan siswa. Penilaian itu mengutamakan penilaian kualitas hasil kerja siswa dalam menyelesaikan suatu tugas.
  1   2   3   4   5   6   7   8   9

Share ing jaringan sosial


Similar:

Abstrak tujuan pada penelitian ini adalah 1) menentukan proses desain...

Program Keahlian melaksanakan kurikulum berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (ktsp)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (ktsp)

Kurikulum tingkat satuan pendidikan (ktsp)

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 mewajibkan...

Pendidikan Islam pada intinya adalah sebagai wahana pembentukan manusia...

Pendidikan pada hakekatnya adalah upaya perubahan untuk mencapai...

Pada program studi pendidikan matematika

Kurikulum tingkat satuan pendidikan

Kurikulum tingkat satuan pendidikan

Gambar


Nalika Nyalin materi nyedhiyani link © 2000-2017
kontak
gam.kabeh-ngerti.com
.. Home