Pada pembahasan sebelumnya, telah diketahui peranan dari sektor pariwisata sebagai salah satu sumber bagi kegiatan perekonomian suatu negara atau dengan kata


download 84.41 Kb.
jenengPada pembahasan sebelumnya, telah diketahui peranan dari sektor pariwisata sebagai salah satu sumber bagi kegiatan perekonomian suatu negara atau dengan kata
KoleksiDokumen
gam.kabeh-ngerti.com > Astronomi > Dokumen




BAB II

DEVISA DAN EFEK BERGANDA

PENDAHULUAN
Pada pembahasan sebelumnya, telah diketahui peranan dari sektor pariwisata sebagai salah satu sumber bagi kegiatan perekonomian suatu negara atau dengan kata lain sudah diketahui asal pendapatan sektor pariwisata dalam hubungannya dengan kegiatan perdagangan nasional.
Pada dasarnya hasil yang diperoleh dalam suatu perdagangan antar negara lazim disebut dengan devisa yang biasanya berasal dari luar negeri.
Selain mampu meraih devisa, kegiatan pariwisata seharusnya mampu pula merangsang kegiatan sektor ekonomi lainnya dan juga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat karena kegiatan ini.
Peningkatan pendapatan masyarakat karena kegiatan ini pada tahap lanjutan akan meningkatkan pengeluaran masyarakat akan kebutuhan mereka sendiri sehingga terlihat adanya akibat langsung dari pengeluaran wisatawan terhadap daerah yang dikunjunginya.

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Bab ini diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada para mahasiswa atas devisa, bagaimana memperolehnya dan bagaimana devisa yang diperoleh tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat setempat melalui konsep efek berganda.
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah mempelajari bab ini, para mahasiswa diharapkan mampu :

  • Mengetahui apa yang disebut dengan devisa dan mengenal jenis-jenis dari devisa

  • Mampu mengidentifikasikan sumber-sumber penghasil devisa baik secara umum, dari industri jasa dan dari sektor pariwisata.

  • Memahami teori dasar Efek Berganda.

  • Mampu mengidentifikasi efek berganda yang diakibatkan oleh kegiatan pariwisata.



  1. DEFINISI DEVISA


Yang dimaksud dengan devisa secara sederhana adalah alat pembayaran yang dapat dipergunakan oleh sebuah negara untuk melakukan pembayaran kepada negara lain.
Menurut pasal 1 ayat 4 Bab 1 Undang-undang No.32 tahun 1964 yang termasuk devisa adalah :


  1. Setiap saldo bank dalam valuta asing (Valas) yang mempunyai catatan kurs resmi dari Bank Indonesia.




  1. Valas lainnya, tidak termasuk uang logam yang mempunyai catatan kurs pada Bank Indonesia.


Sebenarnya setiap benda yang dapat digunakan untuk kegiatan pembayaran transaksi perdagangan antar negara, dapat disebut devisa.
Termasuk dalam kategori ini pembayaran dengan mempergunakan emas. Akan tetapi agar dapat digunakan sebagai alat pembayar, nilai benda pembayar tersebut harus dinyatakan dalam nilai mata uang yang berlaku menurut hukum di negara yang bersangkutan.



  1. JENIS-JENIS DEVISA


Pengertian devisa tidak dapat dilepaskan dari pembatasan-pembatasan yang ditetapkan menurut peraturan di negara-negara yang mempergunakannya.

Di Indonesia, sampai dikeluarkannya UU No.32/1964, dipergunakan pengertian yang terdapat dalam Deviesen Ordobantie (DO) tahun 1940 yang menyebutkan apa saja yang termasuk dalam pengertian devisa, yang diantaranya adalah :

  1. Mata uang emas dan bahan mata uang emas yang belum diolah.

  2. Alat pembayaran luar negeri

Berupa hasil jual-beli barang-barang yang di ekspor, pembayaran jasa yang diberikan kepada luar negeri berupa uang logam dan uang kertas, uang kertas bank dan alat pembayaran semacam lainnya.

  1. Surat-surat berharga luar negeri

Cek, wesel (giro…,bank & kantor pos), promes/obligasi (surat tanda berhutang), dan surat-surat berharga lainnya, efek-efek (future trading) serta surat devisa lainnya.

  1. Piutang luar negeri

Yang dapat ditagih segera maupun piutang jangka panjang, termasuk pula kredit rekening koran suatu bank.

  1. Benda-benda tak berwujud yang berada diluar negeri

Termasuk didalamnya hak cipta dan hak paten.

  1. Benda-benda bergerak dan tidak bergerak yang berada di luar negeri.



  1. SUMBER-SUMBER PENGHASIL DEVISA




    1. Sumber Devisa Umum


Sumber utama penerimaan devisa berasal dari ekspor barang-barang, penjualan jasa dan pinjaman luar negeri dalam bentuk valas.

Secara lebih rinci, pada umumnya devisa yang diperoleh sebuah negara berasal dari :

    1. Hasil ekspor barang dan jasa.

    2. Pinjaman luar negeri

    3. Penjualan kertas berharga kepada pihak-pihak luar negeri.

    4. Penanaman modal asing.

    5. Hadiah-hadiah yang diperoleh dari luar negeri.

    6. Kekayaan negara yang dipindahkan ke dalam negeri, (contoh gedung kedutaan)

    7. Hasil penjualan barang-barang milik negara, yang bergerak maupun tidak dalam mata uang asing.

    8. Hasil penyewaan barang dan jasa yang dibayar dalam mata uang asing.

    9. Foreign exchanges yang didapat dari hasil pengeluaran wisatawan selama berkunjung disebuah negara.

    1. Sumber Devisa Bidang Jasa

Hasil devisa yang berasal dari kegiatan jasa didapat dari beberapa sumber antara lain :

  1. Valas yang diperoleh oleh Travel Agent, Tour Oprtaor, jasa transportasi, hotel, bar dan restoran, toko cinderamata, hiburan, kantor konsultan dan biro survai.




  1. Valas yang diterima agen kapal dari principal-nya (pemilik kapal atau kadang-kadang agen luar negeri) untuk uang muka atau untuk penggantian biaya kapal milik perusahaan asing.




  1. Valas yang diperoleh dalam pemberian jasa ke luar negeri oleh maskapai perkapalan dan penerbangan, yaitu untuk biaya pengangkutan barang (freight), agency fee (komisi), call fee (untuk port of call/administrasi pelabuhan) dan lain-lainnya.




  1. Ongkos mutan lanjutan yang diperoleh dalam valas oleh perusahaan dalam negeri dari transaksi luar negeri.




  1. Valas yang diperoleh dan yang berhubungan dengan pembangunan rumah dan kantor-kantor negara asing pada suatu Negara.


Terlihat dari dua asal penerimaan devisa tersebut bahwa kegiatan ekspor merupakan faktor utama dapat tersedianya devisa bagi negara. Dalam hal ini kegiatan jasa dapat pula disebut sebagai ekspor walaupun tak berwujud

(invisible export). Sebaliknya impor lebih besar dari ekspor, maka dikhawatirkan neraca pembayaran negara tersebut akan mengalami defisit.

Apabila sebuah negara asing mengalami defisit dalam neraca pembayaran luar negerinya, selalu diusahakan agar ekspor dan impor dibuat seimbang dengan segala cara. Walapun hampir setiap negara cenderung membuat neraca pembayaran yang surplus.
Bagi sebuah Negara yang hasil ekspornya terbatas, pemerintah yang berkuasa di negara itu selalu berusaha mencari sumber-sumber baru penghasil devisa negara. Republik Indonesia dalam hal ini melakukan pula kegiatan serupa.
Salah satu usaha yang dilakukan pemerintah RI adalah meningkatkan kegiatan kepariwisataan yang dimulai dengan dikeluarkanya Inpres No.9 tahun 1969.


  1. PENGHASILAN DEVISA DARI KEGIATAN PARIWISATA


Penghasil devisa dari sektor pariwisata berbeda dengan yang diterima dari sektor lainnya. Dalam kegiatan ekspor penerimaan devisa diperoleh dengan mengirimkan barang-barang atau komoditi ekspor lainnya ke luar negeri.

Akan tetapi dalam industri pariwisata, komoditi yang dijual tidak bergerak melainkan pembelinya yang datang menikmati produk yang ditawarkan.
Makin banyak wisatawan yang datang, secara teoritis akan meningkatkan penerimaan devisa negara.
Secara praktis masuknya devisa negara melalui industri pariwisata melalui :

4.1.Hasil penjualan tiket maskapai penerbangan nasional untuk mencapai negara dan kembali berikut penerbangan domestik.
4.2.Biaya taxi dan bus wisata untuk transfer dari dan ke airport, dan hotel.
4.3.Sewa kamar hotel selama menginap pada beberapa kota yang dikunjungi.
4.4.Pengeluaran wisatawan untuk makanan dan minuman pada Bar dan Restoran, baik di dalam maupun di luar hotel dimana mereka menginap.
4.5.Biaya sightseeing dan excursion atau tours pada kota-kota yang dikunjungi pada negara tujuan .

4.6.Biaya transportasi lokal untuk keperluan pribadi dalam kota yang dikunjungi.
4.7.Pengeluaran untuk membeli barang-barang cinderamata serta barang-barang lainya yang dibeli pada beberapa kota yang dikunjungi.
4.8.Fee untuk perpanjangan visa di tempat atau kota yang dikunjungi (apabila diperlukan).


  1. KONSEP EFEK BERGANDA



Hal penting lain yang perlu diperhatikan sebagai akibat kegiatan pariwisata bagi perekonomian suatu daerah atau negara adalah timbulnya kontribusi (sumbangan) yang dihasilkan oleh wisatawan terhadap pendapatan penduduk setempat.
Pengeluaran wisatawan di daerah yang dikunjunginya menimbulkan pendapatan dan produk serta jasa baru yang selanjutnya akan merangsang timbulnya pengeluaran dan pendapatan lanjutan.
Sebagai ilustrasi, dapat kiranya dilihat bagan dibawah ini yang menunjukkan bagaimana pengeluaran wisatawan tersalurkan beberapa kebutuhan di daerah tujuan wisata.

Bagan -1-

Pola Pengeluaran Wisatawan Di Suatu Daerah Tujuan Wisata























………..










- Operator Tour




………..










………..




























………..










- Cinderamata
















………..



















Pajak

Wisatawan ------

- Hotel




Pembelian bahan baku

Gaji













Bahan Baku







………..










- Transportasi







Sandang







………..

Upah dan Gaji

Pangan













Papan







………..










- Lain-lain




………..










………..






















Sumber : The Tourism System, 1986

Dari ilustrasi di atas, terlihat bahwa pengeluaran wisatawan akan diterima oleh beberapa komponen penunjang kegiatan pariwisata.

Setiap komponen pariwisata itu, selanjutnya akan mengeluarkan lagi biaya-biaya untuk hal-hal lain yang berkaitan dengan proses produksi, begitu pula selanjutnya.
Sebagai contoh lanjutan dari ilustrasi sebelumnya, dapat secara lebih jelas dilihat bagaimana timbulnya peningkatan pendapatan masyarakat setempat sebagai hasil pengeluaran wisatawan atas kegiatan pariwisata.

Bagan -2-

Peningkatan Pendapatan Masyarakat Akibat Pengeluaran Wisatawan Atas Kegiatan Pariwisata


Tahap I

Wisatawan membayar kegiatan pariwisata

Rp. 100.000,00










Tahap II

Pengusaha usaha pariwisata membayar biaya untuk gaji, pajak dan bahan baku

Rp. 65.000,00










Tahap III

Pegawai usaha pariwisata akan membelanjakan gajinya bagi sandang, pangan dan papan, pemerintah akan menggunakan pajak untuk pembangunan daerah.

Rp. 41.000,00










Tahap IV

Sama seperti tahap III namun berbeda pelakunya

Rp. 17.000,00













Perkiraan JumlahPengeluaran >>>>

Rp.223.000,00

Sumber : Tourism Economic, Physical and Social Impact, 1982
Dapat dilihat bahwa pengeluaran awal wisatawan sebesar Rp.100.000,00 akan menimbulkan pengeluaran akhir yang besarnya Rp.223.000,00. Hal ini berarti terjadi peningkatan jumlah pengeluaran yang besarnya 2,23 Kali dari pengeluaran awal.
Meningkatnya pengeluaran wisatawan yang berakibat meningkatnya pendapatan serta pengeluaran masyarakat setempat seperti pada kedua ilustrasi di atas dikenal sebagai Efek Berganda atau Multiplier Effect.
Oleh sebab itu Efek Berganda, dapat didefinisikan sebagai jumlah peningkatan pandapatan masyarakat setempat yang dihasilkan dari pengeluaran awal wisatawan pada suatu periode waktu tertentu.
Besaran atau koefisien Efek Berganda pariwisata ini akan berbeda di setiap daerah atau negara. Perbedaan ini terjadi karena berbedanya kondisi serta sifat perekonomian daerah atau negara yang satu dengan daerah yang lain.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besaran atau koefisien Efek Berganda adalah (a) besarnya barang dan jasa lokal yang digunakan bagi kegiatan pariwisata (b) besarnya barang dan jasa impor yang digunakan untuk kegiatan pariwisata dan (c) kecenderungan masyarakat setempat untuk menabung.

Secara sederhana, dapat disimpulkan bahwa semakin banyak barang impor digunakan akan memperkecil koefisien Efek Berganda, yang disebabkan karena terjadi kebocoran devisa (Leakage of Devisa)



  1. JENIS EFEK BERGANDA



Secara teoritis, efek berganda dapat dibedakan ke dalam 4 (empat) jenis besar :

6.1.Efek Berganda Pendapatan (Income Multiplier)

Merupakan jenis efek berganda yang paling umum. Efek berganda ini menghitung perbandingan pengeluaran awal wisatawan terhadap pengeluaran langsung (direct spending), pengeluaran tidak langsung (indirect spending) serta pengeluaran ikutan (induce spending) bagi penduduk di suatu daerah wisata tertentu.
Secara nyata diketahui bahwa pengeluaran awal wisatawan di suatu daerah tujuan wisata mengakibatkan timbulnya 3 (tiga) jenis pengeluaran, yaitu :

a. Pengeluaran langsung (Direct Spending)

Pengeluaran pengusaha-pengusaha industri pariwisata yang dikeluarkan untuk membayar biaya operasi usahanya.

b. Pengeluaran tidak langsung (Indirect Spending)

Pengeluaran pihak industri pendukung/masyarakat yang terlibat secara nyata dalam menunjang kegiatan pariwisata.

c. Pengeluaran Ikutan (Induced Spending)

Pengeluaran industri lainnya/masyarakat umum yang secara nyata tidak ada kaitannya dengan kegiatan pariwisata.
6.2.Efek Berganda Penjualan (Sale/Transaction Multiplier)

Dalam pendekatan ini dapat diketahui akibat bertambahnya penjualan produk atau jasa karena pengeluaran wisatawan di suatu daerah.

6.3.Efek Berganda Keluaran (Output Multiplier)

Pendekatan efek berganda ini menekankan pada rasio meningkatnya jumlah produksi suatu daerah karena adanya pengeluaran atau permintaan wisatawan.

6.4.Efek Berganda Lapangan Kerja (Employment Multiplier)

Suatu jenis efek berganda yang menghitung perbandingan dari keseluruhan tenaga kerja yang dapat tertampung bagi kegiatan pariwisata (baik tenaga kerja langsung maupun tidak langsung) terhadap tenaga kerja yang secara langsung bekerja pada sektor pariwisata.
Masing-masing jenis efek berganda ini mampu menghitung gejala-gejala yang berbeda satu sama lainnya dan setiap jenis memiliki kegunaan tertentu dalam pembahasan mengenai dampak kegiatan pariwisata di suatu daerah atau negara.


  1. CARA PENGHITUNGAN EFEK BERGANDA PENDAPATAN


Dalam penghitungan besarnya efek berganda pendapatan dari kegiatan pariwisata, dapat ditempuh 3 (tiga) metode penghitungan seperti dibawah ini :
7.1. Koefisien Berganda (K)

Cara ini menghitung besarnya efek berganda pendapatan dari kegiatan pariwisata dan pengeluaran awal wisatawan.
Perubahan pendapatan karena kegiatan pariwisata mencakup seluruh pendapatan yang telah dikeluarkan, termasuk pula pengeluaran awal wisatawan.
Persamaan yang digunakan dalam metode ini adalah :


K

=

Y

E




Keterangan :

Y

: Pengeluaran total akibat kegiatan pariwisata




E

: Pengeluaran awal wisatawan



7.2. Efek Berganda Pendapatan Ortodoks

Metode ini menghitung perbandingan antara pendapatan yang diakibatkan oleh kegiatan pariwisata (baik langsung, tidak langsung maupun ikutan) terhadap pengeluaran langsung wisatawan pada tahap I.

Persamaan yang digunakan dalam metode ini adalah :


M

=

DS + IS + IdS

DS




Keterangan

DS

: Pengeluaran langsung




IS

: Pengeluaran tidak langsung




IdS

: Pengeluaran ikutan



7.3. Efek Berganda Pendapatan Nir Ortodoks (Unorthodox)

Dilakukan dengan menghitung rasio antara pendapatan keseluruhan dari kegiatan pariwisata terhadap pengeluaran awal wisatawan.

Dengan persamaan sebagai berikut :


M

=

DS + IS + IdS

E



Keterangan :

DS

: Pengeluaran langsung




IS

: Pengeluaran tidak langsung




IdS

: Pengeluaran ikutan




E

: Pengeluaran awal wisatawan


Berdasarkan ketiga cara penghitungan diatas, dapat kiranya kita menghitung besarnya efek berganda menurut masing-masing pendekatan.

Dengan menggunakan data pada bagan -2- kita melihat seorang wisatawan menghabiskan biaya untuk mempergunakan kamar sebesar Rp.100.000,00, pengeluaran langsung Rp.65.000,00. Pendapatan tidak langsung Rp.41.000,00 sedangkan pendapatan ikutan mencapai Rp.17.000,00

Berdasarkan metode penghitungan koefisien dapat diketahui besaran, yaitu :


K

=

Y

E




K

=

100.000 + 65.000 + 41.000 + 17.000

100.000










K

=

223.000

100.000










K

=

2,23 Kali


Berdasarkan metode penghitungan efek berganda pendapatan ortodoks di dapat sebagai berikut :


M

=

DS + IS + IdS

DS




M

=

65.000 + 41.000 + 17.000

65.000










M

=

123.000

65.000










M

=

1,89 Kali


Berdasarkan metode penghitungan efek berganda pendapatan nirortodoks di dapat sebagai berikut :


M

=

DS + IS + IdS

E




M

=

65.000 + 41.000 + 17.000

100.000










M

=

123.000

100.000










M

=

1,23 Kali


RINGKASAN

  1. Devisa adalah alat pembayaran yang dapat digunakan oleh sebuah negara untuk melakukan pembayaran kepada negara lain. Termasuk sebagai devisa adalah benda-benda yang memiliki nilai moneter.

  2. Sumber utama penghasil devisa adalah hasil ekspor komoditas perdagangan, penjualan jasa dan pinjaman berbentuk valuta asing.

  3. Bagi sebuah negara yang hasil ekspor perdagangannya terbatas, kegiatan pariwisata diusahakan untuk ditingkatkan sebagai substitusi penghasil devisa.

  4. Efek Berganda atau Multiplier Effect adalah jumlah peningkatan pendapatan masyarakat setempat yang dihasilkan dari pengeluaran awal wisatawan pada suatu periode waktu tertentu.

  5. Efek Berganda pada sektor pariwisata yang meningkatkan pendapatan penduduk setempat menimbulkan pengeluaran lanjutan baik yang bersifat langsung, tidak langsung maupun pengeluaran ikutan.


PERTANYAAN


  1. Buatlah suatu diagram/gambar/Flowchart yang memperlihatkan bagaimana devisa dari sektor pariwisata mengalir masuk dan keluar dari sebuah negara.




  1. Buatkah sebuah diagram/gambar yang memperlihatkan pola pengeluaran wisatawan di suatu daerah tujuan wisata untuk komponen-komponen :

  1. Tranportasi

  2. Cinderamata

  1. Makan dan minum

  2. Tour




  1. Apabila seorang wisatawan mengeluarkan biaya makan dan minum sebesar Rp.5.000,- perhari, sementara ia berada di daerah tujuan wisata tersebut selama 5 hari, sedangkan pengusaha makan dan minum mengeluarkan biaya Rp.3.350,- untuk keperluan lainya, pada tingkat selanjutnya dikeluarkan biaya lanjutan Rp.2.150,- yang mengakibatkan timbulnya pengeluaran ikutan Rp.1.475,- . Berapakah Efek Berganda yang ditimbulkan oleh pengeluaran wisatawan di daerah tujuan wisata tersebut, dari kegiatan makan dan minum tersebut ?




13772.doc

Share ing jaringan sosial


Similar:

Ups sebagai salah satu sumber daya cadangan sementara, sangat bermanfaat...

P ilihlah salah satu jawaban yang paling tepat, dengan menyilang...

Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar, dengan cara menghitamkan...

Abstrak Informasi adalah salah satu asset penting yang sangat berharga...

Sastra daerah memiliki peranan penting dalam upaya pengembangan kebudayaan...

Abstrak Pariwisata Indonesia merupakan sektor yang memiliki potensi...

Yang tertuang dalam pesan iklan outdoor merupakan awal dari kesuksesan...

Kami rasa sudah jelas bagi kita bahwa sholat merupakan salah satu...

Perlu untuk diakui bahwa industri atau perusahaan skala besar telah...

2007 singkong sebagai salah satu sumber bahan bakar nabati (bbn)

Gambar


Nalika Nyalin materi nyedhiyani link © 2000-2017
kontak
gam.kabeh-ngerti.com
.. Home