Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Uni Indonesia Kawasan Barat


download 297.59 Kb.
jenengGereja Masehi Advent Hari Ketujuh Uni Indonesia Kawasan Barat
Kaca1/7
KoleksiDokumen
gam.kabeh-ngerti.com > Sastra > Dokumen
  1   2   3   4   5   6   7


Departemen Pelayanan Rumah Tangga

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Uni Indonesia Kawasan Barat

Jl. MT Haryono Blok A, Kav.4-5, Jakarta-Indonesia

Email: wiumchil@indo.net.id
KATA PENGANTAR

Selama beberapa bulan terakhir ini, kami telah mengunjungi para pemimpin Pelayanan Rumah Tangga dan anggota-anggota gereja di setiap benua di dunia. Melintasi kenyataan-kenyataan dunia yang selalu mengakibatkan jet lag (sindrom perbedaan zona waktu), dan mencicipi makanan-makanan yang berbeda, bahasa-bahasa yang beragam, budaya-budaya yang berbeda, suhu udara yang berbeda, pola cuaca yang berbeda, dan sejumlah sensasi baru -- beberapa lebih menyenangkan dari yang lain – namun, yang selalu sama di mana pun adalah kebutuhan manusia yang sangat besar akan Allah.
Menikah atau membujang; muda atau tua, laki-laki atau perempuan, bercerai atau janda; anggota baru atau lama, memiliki anak atau tidak, orang Afrika atau Asia, dari Amerika atau Eropa, dari Timur Tengah atau Pasifik Selatan, kita semua membutuhkan Yesus untuk memasuki kehidupan kita, dan memberi kita perdamaian, persahabatan dan jaminan Dia akan menyediakan semua kebutuhan kita.
Langkah yang tergesa-gesa dari kehidupan di abad ke-21 telah meninggalkan kita terengah-engah dalam menarik nafas. Dan untuk dilema ini, kita menambahkan pemasangan alarm, penyebaran media di negara-negara maju dan berkembang, termasuk di kalangan anak-anak yang sangat muda.
Ketika anak-anak kami masih kecil, relatif mudah bagi kami untuk mengadakan ibadah keluarga setiap hari. Tidak lama Jessica dan Julian mulai sekolah, bertualang, dan sejumlah kegiatan anak-anak lainnya, ibadah keluarga kami pun semuanya sirna. Pengakuan akan kenyataan ini mendorong kami untuk mengadakan suatu pertemuan keluarga untuk menghadapi situasi yang tidak bisa dipertahankan ini.
Meskipun pilihan-pilihan yang sangat sulit dan kurang menyenangkan ada di hadapan kami, kami memutuskan untuk bangun lebih pagi dalam rangka menyediakan waktu bersama Allah, sebagai suatu keluarga, pada awal setiap harinya. Mula-mula itu sangat sulit. Namun, memasukkan kembali perbaktian keluarga dalam jadwal harian kami telah memperkaya hubungan kami dengan Allah, dan dengan orang lain tentunya.
Tema kita untuk sumber ini adalah Kebangunan Rohani dan Reformasi: Keluarga-Keluarga Menjangkau Ke Atas! Tidak mungkin untuk membangun suatu hubungan yang layak bersama Allah tanpa membuat waktu untuk berkomunikasi dengan-Nya setiap hari.
Dalam Yeremia 29:13 Allah menyatakan: "Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati.” Pada tulisan yang sama, Ellen White menyatakan: "Kuduskanlah dirimu bagi Allah di pagi hari; buatlah ini menjadi pekerjaanmu yang paling pertama" (Steps to Christ. hal 70). Kenyataannya: "Pertumbuhan kita dalam kasih karunia, sukacita kita, manfaat diri kita -- semuanya bergantung pada persatuan kita dengan Kristus. Ini terjadi melalui persekutuan kita dengan-Nya, setiap hari, setiap jam -- oleh tinggal di dalam-Nya -- maka kita bertumbuh dalam kasih karunia. Dia bukan hanya Pencipta, tetapi juga Penyempurna iman kita. Kristuslah yang pertama dan terakhir dan seterusnya." (Steps To Christ, hal 69).
Kami berharap khotbah-khotbah, lokakarya, cerita, sumber-sumber kepemimpinan dan artikel-artikel yang dicetak ulang dalam buku ini, akan membantu para keluarga untuk merasakan kebutuhan yang mendesak akan jangkauan ke atas, dan membuat hubungan dengan Tuhan setiap hari.
Untuk keluarga-keluarga yang lebih kuat dan lebih sehat,

Willie dan Elaine Oliver,


Direktur Departemen Pelayanan Rumah Tangga

GMAHK Se-Dunia
BAGAIMANA CARA MENGGUNAKAN BUKU PERENCANAAN INI

Buku Perencanaan Pelayanan Rumah Tangga ini merupakan suatu sumber tahunan yang diselenggarakan oleh Departemen Pelayanan Rumah Tangga General Conference dengan masukan dari daerah-daerah sedunia untuk membekali gereja-gereja setempat di seluruh dunia dengan sumber-sumber untuk pekan dan Sabat khusus penekanan rumah tangga.
Rumah Tangga Kristen dan Pekan Pernikahan: 11-18 Februari

Rumah Tangga Kristen dan Pekan Pernikahan dilaksanakan pada bulan Februari mencakup dua hari Sabat: Hari Pernikahan Kristen yang menekankan pernikahan Kristen dan Hari Depan Kristen yang menekankan pada pengasuhan anak. Rumah Tangga Kristen dan Pekan Pernikahan dimulai pada Hari Sabat kedua dan berakhir pada Hari Sabat ketiga di bulan Februari.
Hari Pernikahan Kristen: Sabat, 11 Februari, (Menekankan pada pernikahan)

Gunakan Khotbah Pernikahan untuk pelayanan ibadah dan Seminar Mini Pernikahan
Hari Rumah Tangga Kristen: Sabat, 18 Februari (Menekankan pada pengasuhan anak)

Gunakan Khotbah Parenting (pengasuhan anak) untuk pelayanan ibadah dan Seminar Mini Parenting
Minggu Kebersamaan Keluarga: 2-8 September

Minggu Kebersamaan Keluarga dijadwalkan pada minggu pertama bulan September, dimulai pada minggu pertama dan berakhir pada hari Sabat berikutnya dengan Hari Kebersamaan Keluarga. Minggu Kebersamaan Keluarga dan Hari Kebersamaan Keluarga menyoroti jemaat sebagai sebuah keluarga.
Hari Kebersamaan Keluarga: Sabat, September 8, (Menekankan pada keluarga jemaat)

Gunakan Khotbah Rumah Tangga untuk pelayanan ibadah dan Seminar Mini Rumah Tangga

Khotbah No. 1

Hari Pernikahan Kristen: Sabat, 11 Februari 2012
MUJIZAT DALAM PERNIKAHAN
Oleh
Willie dan Elaine Oliver
Ayat: Yohanes 2:1-10
Pendahuluan
Pernikahan adalah lembaga pertama yang didirikan Allah pada saat penciptaan. Pada akhir hari itu, "Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam." (Kej 1:31).
Meskipun menjadi lembaga pertama yang didirikan oleh Allah pada penciptaan, dan dinyatakan sangat baik oleh Allah alam semesta, pernikahan itu sulit. Tentu saja, segala sesuatu yang Allah minta untuk kita lakukan itu sulit, "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23).
Kebanyakan pasangan menikah yang memiliki pernikahan yang relatif baik, dapat bersenang-senang. Namun, ide mereka untuk bersenang-senang tidaklah selalu sama. Yang seorang ingin makan nasi dan kacang-kacangan dan kelewele (pisang goreng dari Ghana), sementara yang lain ingin makan spaghetti. Yang seorang ingin berlibur di pegunungan, sementara yang lain ingin berlibur di pantai. Yang seorang ingin pergi jalan-jalan di Hari Sabat sore, sementara yang lain ingin tidur siang. Yang seorang ingin memiliki tiga anak, sementara yang lain tidak ingin memiliki anak. Yang seorang harus tiba di gereja tepat waktu setiap Sabat, sementara yang lain tidak bisa tepat waktu.
Dengan semua tantangan ini, siapakah yang benar-benar dapat memiliki pernikahan yang bahagia? Apakah Allah membuat kesalahan? Apakah pernikahan itu terlalu sulit bagi manusia yang telah jatuh?
Hari ini kita akan berbicara tentang realitas dalam pernikahan dan hubungan lainnya yang sebagian besar kita sudah merasa akrab dengannya. Kami juga akan berbagi bagaimana kita dapat bergantung pada Allah untuk menjalaninya, dengan belajar bagaimana menjadi sabar, ramah, pengertian, dan memaafkan; memungkinkan kehadiran Allah mengerjakan keajaiban-keajaiban dalam pernikahan kita masing-masing setiap hari. Topik kita hari ini adalah: Mujizat dalam Pernikahan.
Ayat: Yohanes 2:1-10
Dalam kitab Kejadian, Allah digambarkan sebagai yang sedang berfirman kepada dunia. Allah mengucapkan firman dan hal-hal yang membuahkan hasil: langit, bumi, laut dan sungai-sungai; tanam-tanaman dan padang-padang rumput, burung-burung dan ikan-ikan, hewan-hewan dan manusia. Semua yang terlihat dan tidak terlihat, menjadi ada oleh firman Allah yang diucapkan.
Sesuatu yang disengaja setara dengan kata-kata pembukaan Kitab Kejadian, kitab Yohanes, menyajikan Allah sebagai firman keselamatan yang menjadi hidup. Kali ini firman Allah mengambil bentuk manusia dan masuk ke dalam sejarah dalam pribadi Yesus Kristus. Yesus mengucapkan firman itu dan realitas yang luar biasa muncul: pengampunan dan penghakiman, penyembuhan dan pencerahan, kebaikan dan rahmat, kebahagiaan dan kasih, kemerdekaan dan pemulihan. Semua yang telah hancur dan jatuh, jahat dan najis, dipanggil bagi keselamatan oleh firman yang diucapkan oleh Allah.
Oleh sebab itu, di berbagai tempat berbagai hal telah berjalan dengan sangat salah dan sangat membutuhkan perbaikan yang serius (Kitab Kejadian menceritakan kisah itu juga). Perbaikan aakan semua hal ini disadari oleh Firman itu -- Yesus Kristus. Yesus, dalam kisah ini, bukan hanya mengucapkan firman Allah, tapi Dia adalah Firman Allah itu.
Dengan tetap berada di hadapan Firman ini, kita mulai menyadari bahwa kata-kata kita lebih bermakna daripada yang pernah kita akui. Mendeklarasikan "Saya percaya," misalnya, adalah perbedaan antara hidup dan mati. Kata-kata kita mendapatkan nilai dan arti dalam percakapan dengan Yesus. Bagi Yesus keselamatan itu tidaklah dipaksakan, melainkan Dia membawa keselamatan itu melalui percakapan yang tidak terburu-buru, hubungan intim, jawaban yang penuh rahmat, doa yang sungguh-sungguh, dan – secara kolektif -- melalui korban kematian-Nya di kayu salib. Kita jangan cepat-cepat menjauh dari kata-kata seperti ini. Dan untuk pelajaran kita hari ini, Firman itu ditemukan di tengah-tengah perayaan pernikahan pada pasal yang kedua dari kitab Yohanes. (The Message. 2002. NavPress).
Yohanes Pembaptis, sepupu Yesus, berdiri di tepi sungai Yordan berkhotbah dan membaptis dalam pasal satu. Ketika ia melihat Yesus datang ke arahnya, dia berhenti dan berseru, "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia!" (Yohanes 1:29) Pengakuan di dekat sungai ini membuat Yesus mendapatkan beberapa orang murid yang mengikuti-Nya kembali ke Galilea, ke tempat mukjizat pertama-Nya.
Firman ini datang dalam pribadi Yesus, yang datang untuk hidup di antara manusia dan mengalami hidup mereka sehingga mereka dapat mengalami keselamatan-Nya. Dia adalah Allah dalam daging, Immanuel, yang pada sebuah pesta pernikahan di Kana, bersama murid-murid baru-Nya -- salah satu dari mereka bernama Natanael, yang sebenarnya berasal dari Kana (Yohanes 21:2). Mungkin Yesus membawanya pulang agar ia dapat digunakan untuk membantu membawa keselamatan bagi keluarganya.
Kana berada sekitar tiga hari perjalanan dari sungai Yordan dan sangat dekat ke Nazaret, di mana Maria ibu Yesus hidup. Para sarjana menunjukkan pernikahan itu mungkin dari seorang kerabat Maria dan itulah alasan mengapa Yesus diundang, karena pelayanan-Nya kepada masyarakat baru saja dimulai dan Dia pun masih hampir tidak dikenal.
Pesta pernikahan di timur dekat sering berlangsung selama tujuh hari, cukup membuat beban keuangan kepada orang yang menyediakan makanan dan minuman. Ketika persediaan anggur habis -- tampaknya keluarga ini agak miskin -- Maria melibatkan diri untuk mencoba menyelamatkan muka keluarga dengan memanggil Yesus. Yesus hingga saat ini belum melakukan mujizat apapun. Tapi, Maria pasti sudah tahu, dalam menghadapi kemustahilan ini, Mesias yang dijanjikan itulah satu-satunya harapannya untuk membantu memecahkan dilema memalukan itu.
Menggunakan kesempatan ini untuk membiarkan ibunya tahu bahwa dia bukan lagi seorang anak lelaki kecil, atau di bawah wewenang gerak hatinya; lebih dari itu, oleh ingin memberi isyarat bahwa hidup-Nya sekarang semata-mata berada pada pengaturan dan arahan dari Allah Bapa, Yesus menjawab: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba." Sekarang, para ahli Perjanjian Baru memastikan pada para pembaca zaman modern, bahwa bahasa ini sama sekali bukan tidak menghormati Maria, melainkan mengajukannya sebagai suatu komunikasi sopan yang sangat umum di antara ibu dan anak yang sudah dewasa, sementara pernyataan: "Mau apakah engkau dari pada-Ku?" merupakan sebuah ekspresi umum dalam bahasa Yunani untuk menyampaikan hubungan yang ada sebelumnya antara dua individu yang telah berkembang ke tingkat yang baru.
Apa yang sangat penting yang sering disalahpahami dalam pembicaraan antara Yesus dan ibunya ini adalah bahwa tidak ada argumen yang muncul di antara mereka. Dengan tenang, rendah hati dan penuh kepastian dia berbicara kepada para pelayan -- mereka jelas mengenalnya sejak kunjungan sebelumnya ke rumah itu -- dan berkata: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu" (Yohanes 2:5).
Itu pastilah pernikahan orang Yahudi yang taat, mengingat adanya enam tempayan air yang terbuat dari batu (masing-masing berisi 20 sampai 30 galon) yang digunakan untuk ritual penyucian Yahudi sebelum dan sesudah makan (Mat. 15:1-2). Yesus memerintahkan para pelayan untuk mengisi tempayan-tempayan itu dengan air, dan para pelayan itu mematuhinya, sampai penuh sekali. Yesus memerintahkan mereka untuk mencedok air itu dan membawanya ke pemimpin pesta untuk meminta persetujuannya. Pemimpin pesta itu sangat sibuk dalam pesta itu, tampaknya ia tidak tahu bahwa mereka telah kehabisan anggur, namun, ia sudah siap untuk mencicipi air anggur yang baru itu yang akan ditawarkan kepada para tamu.
Pemimpin pesta itu berhenti sejenak tidak lama setelah mengecapnya, lalu memanggil mempelai laki-laki dan berkata anggur yang terbaik, tidak seperti kebiasaan pada umumnya, tetap ada sampai saat yang terakhir. (Walvoord, et al., 1983-c1985).


Aplikasi



Pertanyaan hari ini, Saudara dan Saudari, adalah pelajaran apa yang kita temukan dalam kisah ini untuk menginformasikan bagaimana kita masing-masing dapat merundingkan pernikahan atau hubungan penting lainnya dalam cara yang lebih baik daripada yang kita miliki di masa lalu?
Apakah kita menikah atau menjalin hubungan penting lainnya tanpa menghitung biaya? Apakah kita kehabisan anggur kesabaran, pengampunan kebaikan, dan sukacita? Apakah kita menyadari pernikahan dan hubungan lainnya tidak hanya untuk memberikan kepada kita kenyamanan, persahabatan dan sukacita tetapi juga untuk memberikan kehormatan, pujian dan kemuliaan bagi Allah?
Meskipun mungkin telah sampai pada menit terakhir dari perencanaan, pasangan ini mengundang Yesus ke dalam pernikahan mereka, dan itu berarti ke dalam kehidupan mereka. Apakah kita mengundang Yesus ke dalam rumah kita dan ke dalam hubungan kita untuk mengatur lalu lintasnya dan melakukan mujizat?
Pasangan di Kana itu mungkin tidak tahu pentingnya memiliki Yesus pada pesta pernikahan mereka, tetapi seseorang yang tahu dan peduli terhadap mereka mengundang Yesus untuk hadir di tengah-tengah mereka.
Yesus menggunakan tempayan air yang telah tersedia di rumah mereka, sebuah simbol ketaatan kepada Allah. Apa yang kita sudah praktekkan di rumah tangga kita yang Yesus dapat gunakan untuk mengubah realitas hubungan pernikahan dan rumah tangga kita?
Tidak ada yang terlalu sulit bagi Tuhan. Dia dapat membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dia dapat mengubah kekosongan kita menjadi kelimpahan yang meluap. Jika kita membiarkan Yesus masuk ke dalam pernikahan dan rumah tangga kita, Ia dapat melakukan mujizat yang mengubah rasa malu dan rasa sakit dari kehidupan kita.
Jadi apa sajakah masalah-masalah dalam pernikahan kita yang kita tidak tahu bagaimana untuk menanganinya dan yang menyebabkan kita kehabisan kesabaran, pengampunan kebaikan, dan sukacita?
Dalam hal kebaikan Alkitab menyatakan tentang istri yang saleh dalam Amsal 31:26: "Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya." Kitab Suci juga menyatakan hal itu dalam 1 Korintus 13:4: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati. . . " Dan Efesus 4:32 menegaskan: "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu."
Tentang kesabaran Kitab Suci menyatakan dalam Yakobus 1:4: "Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun." Rasul Paulus mengumumkannya dalam 1 Timotius 6:11: "Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan." Dan kemudian dalam Roma 15:5: "Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus."
Pada pokok pengampunan, Kitab Suci mengumumkan dalam Matius 6:14, 15: "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." Lalu Mazmur 86:5 menyatakan: "Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu." Dan ayat klasik dalam 1 Yohanes 1:9 menyatakan: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."
Berbicara tentang bagaimana kita harus bersikap satu sama lain dalam pernikahan dan dalam rumah tangga, Ellen White menyatakan dalam Rumah Tangga Advent, hal 421: "Kesopanan, bahkan dalam hal-hal kecil, haruslah dinyatakan oleh orang tua terhadap satu sama lain. Kebaikan yang menyeluruh harus menjadi hukum rumah tangga. Tidak ada bahasa kasar yang boleh dimanjakan, tidak ada kata-kata pahit yang boleh diucapkan."
  1   2   3   4   5   6   7

Share ing jaringan sosial


Similar:

Herodatus seorang Yunani Kuno mengunjungi Mesir pada tahun 4oo an...

Abstrak kawasan perkotaan di Indonesia tumbuh secara dinamis sejalan...

Advent adalah masa2 menjelang peringatan datangnya Isa Almasih kedunia...

Mengenang Sant’Egidio, seorang rahib dari timur yang datang ke barat....

Jelaskan latar belakang histories masuknya Bangsa Barat ke Indonesia pada awal abad ke-17

Asia Tenggara merupakan sebuah kawasan periferal, akan tetapi kawasan...

Menyebarkan pekabaran tiga malaikat khususnya di Indonesia Kawasan...

Menyebarkan pekabaran tiga malaikat khususnya di Indonesia Kawasan...

Menyebarkan pekabaran tiga malaikat khususnya di Indonesia Kawasan...

Abstrak Perdagangan bebas dengan berbagai dampak nagatifnya yang...

Gambar


Nalika Nyalin materi nyedhiyani link © 2000-2017
kontak
gam.kabeh-ngerti.com
.. Home